image1 image2 image3

HI! I'M MARTIKA SANDRA|THE EL-GHAZY'S MOM|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I'M GLAD YOU ARE VISITING HERE

Antara Yoga, Zero Waste & Minimalisme (1)


Wheel Pose


Dalam dunia yoga, saya mengenal yang namanya melepas kemelekatan. Sebagaimana proses exhale yang terjadi ketika melakukan berbagai asana. Tanpa melepas kemelekatan, kita tidak akan pernah bisa menemukan diri sendiri, alih-alih berdamai dengan diri sendiri, bahkan menyembuhkan diri sendiri. Saya sangat menikmati proses itu dan mengenal pertama kali dari panutanku Teh Uji. Terlalu spiritual cerita dibalik saya bisa bertemu dengan Teh Uji. Kenapa? Dari awal hanya bisa stalking dan bermimpi, justru beberapa tahun kemudian saya bisa bertatap muka dan mengais ilmu yoga langsung dari beliau di Yogyakarta. Teh Uji yang suaranya adem, kesamaan kami yang mengidolakan Jalaludin Rumi, menyukai damainya melodi flute (meski saya hanya sebatas penikmat, bukan flutis seperti beliau), yoga nidra yang membuat saya bahkan sampai menitikkan air mata saat sesi savasana, dan penampilan khas beliau dengan warna dan style yang hampir mirip setiap hari. Mengajarkan saya bahwa, semakin tangki ilmu kamu berisi, semakin sederhana dan filosofis tampilan non-substansimu. Kalimat yang berkali-kali saya temukan, namun tidak setiap hari bisa memaknai makna tersebut dengan paripurna. 


Menulis ini pula, membuat saya teringat dengan salah satu dosen (mata kuliah Kesehatan Kerja) semasa kuliah dulu. Sampai saat ini teka-teki berasal dari rasa penasaran kami mahasiswa, ada yang berpendapat bahwa beliau hanya memiliki 2 potong baju. Ada yang berpendapat beliau memiliki banyak baju dengan warna yang sama, yaitu putih. Iya, setiap hari dosen kami ini datang dengan warna kemeja yang sama, putih. Padahal dilihat dari profesinya, bahkan dari tempat tinggalnya (punya usaha bukan skala kecil), membuat kami tidak percaya bahwa penyebabnya adalah beliau tidak memiliki materi lebih untuk mengoleksi berbagai macam baju. Apakah beliau memakai prinsip "isi dan kesederhanaan jauh lebih penting dari apa yang hanya sekedar nampak"? Entahlah.


Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, saya ditakdirkan bertemu dengan Mbak MarKo (sebutan saya untuk Marie Kondo), dan lebih familiar dengan istilah atau sebutan Konmari (sebuah metode berbenah ala Jepang). Sebelum bertemu, sebenarnya saya termasuk tukang koleksi storage, hahaha. Kenapa? mengkategorikan sesuatu adalah pekerjaan yang sangat membuat saya bahagia. Karena di balik itu, memudahkan saya mengingat sesuatu. Bagian kosong yang ada di depan mata saya, entah mengapa menjadi semacam terapi secara visual. Ada unsur kebahagiaan di dalamnya. Akan tetapi, dalam kesukaan proses tersebut, saya mengalami kebuntuan dalam menyelesaikan ending. Maksudnya? saya hanya dalam tahap mengkategorikan tanpa ada keinginan untuk mengurangi secara tuntas. Kenapa tidak tuntas?karena untuk barang yang berkaitan dengan emosi, saya masih belum bisa menyingkirkan dan ini terkait dengan belum ada rasa melepas kemelekatan di dalam diri saya. Selain itu, saya tidak ingin mengotori bumi tapi belum bertemu cara bertanggung jawab secara penuh dengan mengolah sisa aktivitas (secara emosi) yang dihasilkan. Ada yang sudah terolah tapi berhenti karena terkendala waktu. Benda-benda yang memiliki unsur emosional yang saya maksud seperti : diari, hadiah pemberian orang, sepatu kesayangan, dan lain-lain.


Semakin ke sini, semakin saya paham bahwa setiap episode yang terjadi dalam hidup adalah bagian dari mozaik misi yang mengerucut menjadi visi sebagaimana sign dari fitrah based education. Di setiap kepingan mozaik yang satu akan berusaha saling mencari dan saling mengisi dan bersatu. Sebagaimana kata Teh Uji "apa yang kita cari, sesungguhnya sedang mencari kita", apakah ini manifestasi dari Tuhan yang kita cari juga sedang mencari kita?entahlah, hehehe.


(Bersambung...)


Oleh : Martika Sandra 




DILARANG PLAGIAT TULISAN ORANG!!! HARGAI HASIL KARYA ORANG LAIN.


Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar