image1 image2 image3

HI! I'M MARTIKA SANDRA|THE EL-GHAZY'S MOM|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I'M GLAD YOU ARE VISITING HERE

Aku Bisa karena Ibu Percaya


Oleh : Martika Sandra


Menemani 1000 hari pertama seorang anak yang dimulai sejak dalam kandungan membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Meskipun bukan hanya 1000 hari pertama saja yang menjadi proses terpenting dalam kehidupan seorang anak. Kesabaran yang dimulai sejak awal kehamilan yang membutuhkan adaptasi sampai mendekati proses kehamilan. Memberi stimulus dan melakukan hal-hal yang seharusnya demi kebaikan calon anak dalam kandungan.
Setelah proses kelahiran, tingkat kesabaran pun dituntut untuk terus meningkat. Menjaga amanah Allah tidak mudah namun bukan pula berarti sulit jika mengikuti aturan terutama aturan aturan dari yang Maha Pengatur Semesta. Ibu memang seorang pendidik, namun juga diperlukan kerja sama dari Ayah dalam proses tersebut. Anak-anak perlu dibekali agar nantinya bisa menjadi manusia yang senantiasa menjalani kehidupan berlandaskan Cinta kepada Allah SWT. Karena dalam kehidupan akan banyak sekali masalah dan rintangan yang akan dihadapi. Anak-anak juga merupakan generasi penerus, tidak selamanya akan terus menerus bersama orang tua.
Sehingga dalam hal ini mereka membutuhkan yang namanya keterampilan hidup yang didasari oleh sikap mandiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, menyatakan bahwa mandiri adalalah satu sifat di mana seseorang dapat berdiri sendiri, tanpa bergantung pada orang lain. Manfaat sikap mandiri ketika dewasa antara lain menumbuhkan rasa percaya diri, mampu menganalisa, bertanggung jawab, dan memiliki pemikiran kritis. Tidak bergantung pada orang lain bukan berarti tidak membutuhkan orang lain.  Maksudnya adalah dengan mandiri maka kegiatan yang dilakukan masih mampu berjalan meskipun tanpa bantuan orang lain.
Sikap mandiri dimulai sejak dini dimana orang tua berperan penting dalam hal ini. Lebih dari sekedar tanggung jawab, rasa sayang akan membuat orang tua merasa harus untuk membekali anak-anaknya dengan sikap ini. Bahkan sikap mandiri juga bisa diajarkan semenjak usia janin. Misalnya : seorang Ibu yang masa kehamilannya jauh dari suami, sisi positifnya adalah sesungguhnya ibu tersebut sedang mendidik janin dalam kandungannya untuk menjadi pribadi yang mandiri tanpa bergantung pada orang lain, dalam hal ini adalah suaminya.
Ada tipe orang tua yang menginginkan anak belajar mandiri nanti saat usia dewasa, padahal bisa dilakukan semenjak masih dalam kandungan, setelah anak lahir dan seterusnya sesuai perkembangannya. Karena sikap mandiri tidak diperoleh dengan instan melainkan berproses.
Menanamkan sikap mandiri sejak dini bukan untuk melatih, namun untuk memberi kesempatan. Ketika bayi menangis saat bangun pagi, terkadang kita sebagai orang tua buru-buru memeluknya. Padahal berikan jeda sedikit waktu dan lakukan beberapa kali untuk melihat apakah ketika matanya terbuka ia hanya diam menatap langit dan sekeliling, atau sembari tersenyum, atau bahkan menangis lagi. Salah satu hal untuk memberi kesempatan anak bisa mandiri ketika bayi adalah, ada saat dimana ia harus bersama orang lain, minimal jangan pelit meminjamkan bayi kita untuk digendong orang lain (tentunya setelah melalui pertimbangan faktor hygiene).
Orang tua perlu mendukung anak-anak yang mulai menunjukkan sikap kemandiriannya sejak dini. Seperti misalnya anak pertama saya, saya lupa persis usia berapa ketika suatu sore dia menolak untuk saya  suapi dan mengambil sendok yang ada di tangan saya. Kebanyakan dari kita orang tua lebih memilih untuk tetap mengambil sendok tersebut dan melanjutkan suapan dengan alasan karena terburu waktu. Padahal ketika anak mulai memiliki keputusan sendiri dalam soal makan, berarti fisiknya sudah mulai siap untuk belajar mandiri, makan sendiri tanpa disuapi.
Di lain hari, anak pertama saya mulai tidak menyukai pakaian yang saya pilihkan. Tak ingin lagi dimandikan dan berusaha dengan keras mengambil gayung dari tangan saya. Pernah juga ia memegang sapu sambil meniru gaya saya menyapu ketika usianya baru 1 tahun 2 bulan. Ada banyak hal yang dilakukannya sebagai salah satu bagian dari proses menjadi mandiri.
Suatu sore, saya membiarkan dua balita saya bermain di luar rumah. Sebelumnya dekat pintu masuk rumah, ada sarang burung yang mungkin jatuh dari samping horden yang letaknya tersembunyi di balik kaca. Bergegas saya ke dapur untuk mengambil sapu dengan maksud membersihkan sarang burung tersebut. Setibanya di pintu rumah, saya terkejut senang karena ternyata anak sulung saya yang masih balita sedang memegang sapu dan menyapu sarang burung dekat pintu.
Lain waktu juga ketika usianya 3 tahun, sepulang kantor saya dapati ia tengah berdiri dekat wastafel sambil memegang piring dan sabun. Sebenarnya saya cukup khawatir, takut saja piring tersebut jatuh dan pecah. Namun dengan santainya saya mendekati balita ini, sambil berkata :
“Nak…kamu lagi apa sih sayang?”
“Kakak abis makan Bu, kakak nyuci piling kakak sendili. Lihat ini pakai sabun juga ” jawab si sulung.
“Aduh pinternya anak Ibu, tapi hati-hati ya” tampak senyum bahagia darinya menandakan bahwa ia bangga sudah bisa mencuci piring. Bergegas langsung saya selamatkan piring-piring yang lain ke tempat yang aman agar jauh dari jangkauan sembari turut memegang piring penuh sabun yang sedang dipegang bocah ini.
Begitu pun hal nya di suatu sore ketika kami bertiga bermain bersama. Si Adik menangis dengan sedikit kesal karena tali yang ingin ia masukkan ke dalam bola berlubang tak pernah berhasil. Saya dekati lalu berikan contoh, kemudian kembali mengajaknya untuk mengulang.
“Adik tidak tahu Ibu. Ini sulit…..hik hik hik” kata si bungsu.
“Coba lihat ini Nak, megangnya dengan tangan kanan di ujung tali. Setelah itu tangan kiri dekatkan. Pelan-pelan. Coba deh Adik bikin” kata saya sambil si Adik melanjutkan “proyek” kecilnya. Dengan tekun ia menyimak instruksi, hingga ketika tali itu berhasil menembus beberapa bola-bola kecil berlubang
“Yeaayyy, Adik bisa Ibu” tawanya terukir lebar ketika mainan meronce nya berhasil ia satukan.
    Ketika anak meminta untuk memakai baju sendiri, tak perlu kita larang tapi biarkan sambil membimbingnya melakukan dengan baik. Dan ternyata ini sesungguhnya bermanfaat bagi working mom seperti saya, ada banyak yang bisa saya lakukan ketika anak-anak sudah bisa memakai baju sendiri tanpa bergantung pada ibunya. Bukan lari dari tanggung jawab, tapi kita memang harus sedikit tega agar nanti anak-anak tidak terbiasa tergantung pada ibunya saat mereka masuk ke usia sekolah. Terbiasa mandiri juga membuat anak ketika dewasa memliki keputusan sendiri dan tidak plin-plan dalam membuat sebuah keputusan nantinya.
    Mengajarkan kemandirian sesungguhnya bukan melatih, tapi memberi anak kesempatan. Dengan kita melatihnya sejak dini, kita sedang menciptakan anak-anak yang tangguh. Dan kesemuanya itu dimulai dari rasa percaya kita terhadap anak. Tanpa ada rasa percaya, ibu akan selalu takut dan ragu ketika anak-anak sedang melakukan sesuatu padahal ia sebenarnya sedang dalam tahap menjadi mandiri. Bantu anak untuk menjadi percaya diri dengan dirinya, dengan keputusannya, dengan terlebih dahulu memberi kepercayaan padanya sembari tetap di bawah bimbingan dan pengawasan. Jika Ibu percaya anak ibu bisa, mereka pun pasti bisa.  


Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar