image1 image2 image3

HI! I'M MARTIKA SANDRA|THE EL-GHAZY'S MOM|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I'M GLAD YOU ARE VISITING HERE

Emak Asiah


Oleh : Martika Sandra


Malam semakin gelap ketika di sebuah rumah sederhana di sudut jalan, tampak lampu dengan cahaya yang mulai redup. Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari, hanya beberapa meter dari jalan sudah bisa tercium harumnya pembakaran tepung terigu, mentega dan bahan-bahan lainnya. Rumah sangat sederhana yang terbuat dari kayu yang sudah lapuk termakan usia dengan hiasan ukiran rayap. Tanpa cat, tanpa horden. Di teras pun hanya tersedia bangku panjang yang tak kalah lapuknya bagian atas namun masih kuat menopang beberapa orang yang sering mampir duduk di situ.

Beberapa makanan ringan dan keperluan dapur menghiasi jendela kawat berlubang kecil yang warnanya sudah menghitam. Tak ada ubin, hanya beralaskan lantai bumi. Wangi parfum khas dari si pembuat roti seakan menyatu dengan wangi puluhan roti yang dibuatnya. Sebelum tidur, perempuan paruh baya ini memiliki kebiasaan mandi meski sudah menjelang malam. Tergambar meskipun dengan keadaan rumahnya begitu sederhana namun kebersihan tetap ia jaga.

Sesekali ia berdiri dan memasukkan nampan berbahan kaleng yang di atasnya beberapa barisan roti yang masih berupa adonan. Turban khas di kepala perempuan ini menutupi rambutnya yang sebagian besar mulai memutih. Tinggal 2 nampan lagi pekerjaannya selesai.

***

Tok, tok, tok, bunyi pintu terdengar ketika jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Emak Asiah yang sudah bangun sedari tadi ini tengah memasukkan roti-roti buatannya ke dalam toples plastik.

“Iya sebentaar…” katanya dengan suara khasnya yang sangat halus. Perlahan ia berjalan menuju pintu warung sederhanya mengangkat sebilah kayu penghalang pintu lalu dibukanya.

“Mau beli Roti Mak, selusin” kata seorang perempuan yang usianya lebih muda dari Emak Asiah.

“Tunggu sebentar” dengan daster kesayangannya berwarna hijau gambar bunga tulip putih, Emak Asiah berjalan beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Jari jemarinya yang gemuk dihiasi guratan-guratan usia membuka dengan sigap toples berisi beberapa buah roti. Diisinya di dalam tas plastik berukuran sedang lalu diserahkannya ke perempuan yang sedari tadi berdiri di depan pintu warung.

Belum sempat ia duduk, terdengar suara lagi seperti sebelumnya dengan maksud membeli roti namun kali ini dengan jumlah yang lebih banyak. Diserahkannya lagi dengan tiga buah tas berisi puluhan roti yang masih hangat. Ia kemudian berjalan menuju oven kesayangannya dengan maksud menyimpannya kembali ke tempat semula di bawah rak piring dekat tempat tidurnya. Sendal jepit berwarna merah dengan inisial A.M menghiasi bagian tumit sandal tersebut.

Ketika ia berdiri dan menuju ke tempat ia meletakkan berbagai jualannya dekat pintu, tiba-tiba  spontan ia berteriak :


“Oalaaaaahhh…kelakuan siapa lagi ini? Haduuh, habis lagi” katanya dengan wajah yang sangat panik. Ia tidak menangis, namun berkali-kali mengutuk entah perbuatan siapa yang sudah ketiga kalinya menyikat habis dagangannya yang persis dekat dengan pintu warung sederhananya. Ia duduk sesaat sambil memegang kepalanya sembari sesekali menyeruput kopi dalam gelas kaleng warna hijau yang sering dipakainya.

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar