image1 image2 image3

HI! I'M MARTIKA SANDRA|THE EL-GHAZY'S MOM|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I'M GLAD YOU ARE VISITING HERE

Suatu Sore di Dalam Mobil



Baru beberapa menit tiba di rumah, mereka berdua harus ikut berpetualang lagi bersama Ibunya sore itu. Sebelumnya sempat bertanya, apakah masih ingin ikut atau di rumah saja? Jangan berharap mendapatkan jawaban "iya kami di rumah saja". Berlarian dua pria kecil ini berebut menuju dapur dan masuk kamar mandi.
Sore itu saya mengajak anak-anak ikut kegiatan komunitas yang saya ikuti. Kegiatan yang isinya makan bersama anak yatim di sebuah tempat makan franchise ternama. Sebelumnya saya dan anak-anak menuju panti asuhan tempat para anak yatim tinggal. Rupanya bus sudah penuh, padahal jika memang masih ada anak-anak yatim yang belum terangkut, akan saya ajak mereka gabung dengan kita agar anak-anak dapat kenalan baru untuk ngobrol dalam mobil.
Starter mobil dinyalakan, saya dan anak-anak duluan menuju tempat makan yang dimaksud. Sepanjang perjalanan dada saya terasa berdegup kencang, entahlah apakah karena efek minum kopi tadi siang atau karena rasa bahagia campur haru menari dalam hati.
Mereka yang biasanya menerima segala bentuk bantuan di tempat, kali ini diajak makan ke tempat makan beramai-ramai sebagaimana yang sering dirasakan anak-anak lain yang memiliki ibu dan ayah. Tampak keceriaan di wajah mereka. Dua pria kecil saya awalnya tampak sedikit cuek, dan mungkin juga karena sedikit efek lapar, sehingga mereka berdua menarik tangan saya menuju meja yang sudah tersedia hidangan beberapa paha ayam di atasnya. Dengan lahap dua bocah ini makan, padahal saya sudah mengajak mereka untuk bersama-sama dengan anak-anak yatim lainnya untuk makan, sedikit menunggu. Sayangnya, mereka berdua tidak menggubris saran tersebut. Setelah acara selesai saya terus mencoba menyambung komunikasi antara anak-anak balita saya dengan anak-anak panti asuhan yang terlihat sangat ceria dan bahagia.
Acara berakhir sebelum Magrib. Ketika perjalanan pulang menuju rumah, anak pertama saya bertanya :
“Ibu…kalo tidur, siapa yang menceritakan dongen ke mereka tadi?” tanya nya.
“Tidak ada sayang…” jawabku.
“Mereka hidup sebatang kara?”
“Iya betul Nak. Mereka makan tidak ada yang menyuapi. Mereka memakai baju sendiri, tidur sendiri. Memasak sendiri. Bermain tanpa ditemani ayah dan ibu. Karena ayah dan ibu mereka sudah tidak ada di dunia” jawab saya cukup panjang.
“Mereka punya kakek dan nenek juga, seperti kakak dan adik? Mereka punya mainan tidak Bu? Tanya si kakak lagi
“Tidak punya Nak. Mereka juga tidak seperti kalian berdua yang bisa pergi ke tempat makan bersama ayah dan ibu mereka”jawabku lagi.
“Panggil mereka ke rumah kakak ya Bu” kata si kakak,
“Boleh, memangnya kenapa?” tanyaku.
“Adin ingin menjaga mereka, Adin ingin berteman dengan mereka”
           Fitrah keimanan benar-benar sedang bekerja dalam diri dua balita ini, meskipun sebelumnya tidak pernah diajarkan. Fitrah yang lazim muncul dalam diri setiap anak yang berusia di bawah tujuh tahun. Usia dimana adalah usia yang tepat untuk mengejarkan tauhid, moral, dan kebaikan yang mempengaruhi pembentukan karakternya kelak. Wahai ibu-ibu, masih tegakah ibu jejalkan anak-anak ibu dengan segala aktivitas berhitung dan membaca di usia fitrah keimanannya ini? Mari didik anak-anak sesuai fitrah berdasarkan usianya, berdasarkan apa yang sudah Allah beri dengan alamiah, bukan mengubah mereka sesuai dengan yang kita inginkan (dari sisi ego).
              

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar