image1 image2 image3

HI! I'M MARTIKA SANDRA|THE EL-GHAZY'S MOM|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I'M GLAD YOU ARE VISITING HERE

Penulis Difabel Yang Berhasil Menembus Batas



Jika orang lain memilih penulis terkenal yang sudah banyak sekali karyanya dengan kisah masing-masing kehidupan mereka. Maka saya lebih memilih untuk menulis tentang salah satu penulis idola di daerah, makna idola bagi saya adalah daya motivasinya mampu mempengaruhi semangat dalam menghasilkan karya. Bukan karena tampilan, melainkan idola karena prestasi dan inspirasi. Salah satu penulis idola saya adalah berasal dari daerah saya sendiri (mencintai produk lokal, hehehe). Sebuah daerah yang jarak tempuhnya empat jam dari Kota Manado (Sulawesi Utara) yaitu Kota Kotamobagu.

Kotamobagu memiliki “aset” seorang penulis yang bagi saya bukan penulis biasa, melainkan seorang penulis istimewa yang mampu memberi inspirasi untuk orang banyak termasuk saya. Nama lengkapnya Indah Permatasari Tinumbia dengan nama pena Indah Tinumbia. Lahir di Kotamobagu tanggal 18 Oktober 1984. Gadis cantik anak pertama dari Ibunda Helmi Hasan ini, merupakan penyandang difabel sejak kecil. Awal pertemuan saya dengannya diperkenalkan sahabat seorang penulis, Titi Kekenusa (Titi Keke). Terlihat semangat belajar yang dimilikinya, seperti itu kira-kira kesan yang saya tangkap ketika mengobrol dengannya melalui dunia maya untuk pertama kalinya.

Beberapa bulan kemudian akhirnya saya bisa bertemu langsung dengannya melalui acara rutin Forum Lingkar Pena Kotamobagu. Tak mampu berucap banyak saat itu, hanya bisa diam dan terus mengamati gadis manis ini dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sungguh malu dengan diri sendiri, masih banyak alasan meski dengan setumpuk keinginan menjadi penulis. Sementara kondisi yang Tuhan beri kepada saya lengkap tanpa kurang suatu apapun.

Meskipun Indah adalah seorang yang memiliki “kelebihan”, tapi hal tersebut tidak menghalangi semangat dan impiannya untuk belajar menulis dan menghasilkan karya. Melalui handphone jadul yang dimilikinya (tanpa laptop!), ia mampu menghasilkan sebuah buku solo. Dan dengan handphone itu pula ia mengirim naskah bukunya ke penerbit dalam bentuk SMS. Melihat sebuah buku solo berisi 73 halaman di dalamnya, akan membuat siapa saja tidak akan percaya jika penulisnya ternyata memiliki kondisi fisik tidak seperti manusia normal lainnya. Tidak bisa berbicara dengan lancar, jari-jari tangannya kaku, dan duduk di kursi roda. Bahkan untuk berjalan ke dalam kamarnya pun harus dipapah dan merangkak.

Indah tergabung dan beberapa kali menjadi PJ di Kelas Menulis Onlinenya kang Tendi Murti. Karya solo yang ia hasilkan adalah kumpulan cerpennya yang terangkum dalam sebuah buku berjudul “Standing Because of Love” (2016) dan antologi “Aku Bernama Imajinasi” (2017). Impiannya agar suatu saat dikenal, dicari dan dikenang sebagai orang yang berprestasi dan menginspirasi mulai terwujud perlahan.


Sumber gambar : FB Indah Tinumbia

Salah satunya adalah saat momen Jumpa Penulis di Jakarta 15 Oktober 2017 kemarin. Ia diundang untuk berada satu panggung bersama 7 penulis terkenal di Indonesia yang juga menjadi penulis-penulis favoritnya. Saya yakin bukan saya saja yang tak mampu menahan air mata haru melihatnya bisa berada di atas panggung kehormatan tersebut. “Aku memang tidak bisa berjalan di atas kedua kakiku sendiri, tapi dengan tulisan aku bisa mengelilingi dunia” katanya di salah satu status di media sosial. Inilah yang menjadi sebab mengapa saya menyebutnya sebagai bukan penulis biasa melainkan penulis istimewa. Semoga semakin banyak karyanya yang lahir dan terus menjadi inspirasi untuk orang banyak dan terus menembus batas segala impian dalam hidupnya tercapai, aamiin.


Sumber Gambar : FB Indah Tinumbia


Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar