image1 image2 image3

HI! I'M MARTIKA SANDRA|THE EL-GHAZY'S MOM|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I'M GLAD YOU ARE VISITING HERE

Lima Belas Menit




Oleh : Martika Sandra




Beberapa kali mataku melirik jam di dinding berwarna kuning itu. Sementara hujan di luar semakin deras, sedari pagi matahari tak pernah mau menunjukkan senyum manisnya. Dengan gontai aku melangkah ke dalam kamar, berdiri di depan kaca sambil menggeratak laci dompet besar milik adik perempuanku.
“aduh!” tetiba jari telunjuk serasa tertusuk sesuatu, refleks tangan kiri terangkat dari dalam dompet. Ku lihat jari telunjuk tangan kiri ada setitik noda berwarna merah mengkilap, berdarah. Rupanya nyeri tadi berasal dari jari telunjuk yang tersayat pisau cukur milik adik perempuanku dalam dompet kecil tersebut.

Tetiba bunyi klakson berbunyi dari halaman rumah, niat mencukur jenggot tak sempat kulakukan. Viko sudah menunggu di mobil. Bergegas keluar kamar dan kulihat ada Mami yang sedang di teras rumah, aku berpamitan ke tempat gym. Jangan dulu berburuk sangka, kami bersahabat sejak kecil dengan memiliki hobby yang sama, senang berolahraga. Berbagai olah raga kami lakukan, dan hampir sebulan ini kami mencoba gym. Kami sudah seperti saudara kandung, jadi jangan pernah menduga bahwa kami adalah sepasang pasangan sesama jenis, hahaha.

Sepanjang perjalanan, aku dan Viko tak sanggup menahan tawa ketika mendengar cerita Viko tentang teman sekelasnya. Tawa yang begitu lepas membuat ingatan saya tergemap tentang beberapa jam kejadian sebelum saya naik ke mobil ini

“Aih, celaka!” kataku sambil mendaratkan telapak tangan kanan ke dahi.
“Kenapa Bim??” tanya Viko.
“Dompet ku ketinggalan dalam kamar” jawabku panik.
“Sialan kau Bim, ku kira hal apa yang membuatmu sepanik itu. Sudah, untuk hari ini 
kau ku traktir. Setelah gym kita mampir Kedai” kata Viko.

Sesampainya di tempat gym, ketika tengah asyik dengan workout, mata saya terbelalak dengan kemunculan makhluk hidup berambut panjang dengan ciri khas mata cipitnya di samping tempatku berdiri.

“Melly??? Untuk apa kamu ke sini” kataku.
“Maafkan aku Bim, please” kata gadis berkacamata itu.
“Aku tak akan pernah memaafkanmu! “ 

Kulepaskan lembut genggaman tangan Melly sambil terus melanjutkan workout. Rasa cinta yang dulu pernah ada tak mampu lagi bangkit hanya dengan kata maaf dari bibirnya.

“Aku mohon dengar dulu penjelasanku” kata Melly, gadis cantik yang pernah singgah dalam hidupku beberapa bulan yang lalu, hingga suatu peristiwa yang dibuatnya membuat hatiku tercabik-cabik.

“Aku minta maaf, aku hanya ingin memberimu ini. Terima kasih sebelumnya Bima” 
hampir lima belas menit kami mengobrol lalu gadis itu menyerahkan sesuatu dibungkus plastik tipis bersama gelang yang pernah kuberikan padanya. 

         Kemudian ia beranjak pergi menghilang di balik besi-besi. Ku balik benda tipis itu dan membaca sebuah tulisan : “Wedding Invitation”.




Sumber gambar : google.com


Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar