image1 image2 image3

HI! I'M MARTIKA SANDRA|THE EL-GHAZY'S MOM|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I'M GLAD YOU ARE VISITING HERE

Kisah Mokodoludut (Cerita Rakyat Bolaang Mongondow)





Ketika itu Obain dan Koeeno sedang berada di Puncak Gunung Bumbungon dan Gunung Mohod. Mereka mencari tempat berlindung dari hujan yang turun tujuh hari tujuh malam yang mengakibatkan sungai besar Dumoga terkena banjir. Setelah banjir surut, mereka mencari makan sampai ke hilir namun belum juga menemukan makanan walaupun hanya seekor ikan. 

“Obai…kamu berjalan ke sana. Aku berjalan di sebelah sana, kita berpencar tapi jangan jauh-jauh “ kata Koeeno kepada Obaian. Mereka berdua terus mencari hingga akhirnya mereka menemukan sebutir telur di dalam sarang burung di atas semak-semak sisa banjir.
“Lihat Koeeno, ada apa di sana? Mari kita lihat sama-sama. Aku takut melihatnya sendirian” kata Obaian.
“Baiklah, mari kita ke sana sama-sama “ jawab Koeeno sambil menggenggam jemari Obaian dan berjalan menuju ke sebuah tempat tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Ouh lihat Koeeno, kita menemukan telur. Tak sabar lagi ingin makan telur sebentar malam. Aku sudah sangat lapar” kata Obaian dengan mata berbinar-binar.

Mereka sangat senang sekali dan membawa telur tersebut ke rumah. Telur diletakkan di dalam keranjang yang teruat dari serat lanut dan diletakkan di tempat yang sedikit tinggi. Obain dan Koeeno bermaksud memasak telur tersebut untuk kemudian dimakan. Namun entah mengapa hari berlalu mereka selalu saja lupa memasak telur yang disimpan. Selama enam hari telur itu lupa dimasak. 

Hingga suatu hari pada hari ketujuh, terdengar ledakan keras berasal dari keranjang tempat mereka menyimpan telur. Suara ledakan tersebut terdengar seperti suara bambu meletus, di luar juga angin bertiup kencang dan guntur bergemuruh. 

“Bomm, bom, boooom” 

Sontak Obain dan Koeeno kaget bukan kepalang, di dalam keranjang yang tadinya tersimpan telur ada seorang anak kecil di situ. Obaian pun dengan penuh gembira mengambil dan menggendong anak tersebut. 

“Lihat, ada anak keci di sini, lucu sekali. Dari mana kah gerangan anak ini datang? Kata Obaian sambil digendongnya dengan penuh kasih sayang seperti anak kandungnya sendiri. Hari pertama anak tersebut keluar dari telur. Hari kedua, anak tersebut sudah bisa bergerak sedikit. Hari ketiga, sudah bisa duduk. Hari ke empat sudah bisa berdiri. Dan hari ke enam akhirnya anak tersebut sudah bisa berjalan.

Akan tetapi pada hari ke tujuh raut anak yang belum memiliki nama tersebut tampak muram seakan dipenuhi kesedihan, badannya sangat kurus, ia sakit. Obaian dan Koeeno menjadi bingung dengan apa yang menimpa anak tersebut.

“Lihat anak ini Obai, sesungguhnya apa yang sedang terjadi dengannya? Apa yang bisa kita harapkan dengan anak seperti ini?” kata Koeeno pesimis.

“Aku akan memanggil para ahli tenung agar bisa membantu anak ini” jawab Obaian. Mereka pun memanggil berbagai orang yang dipercaya mampu menyembuhkan sakit yang diderita anak tersebut namun hasilnya nihil, hingga suatu hari seorang pendengar burung mendengar suara burung dan bertanya tentang burung Bonikulu. Semua dapat disimpulkan, “Jika Anda percaya, anak itu memohon dengan paksa untuk dipelihara secara metode kolong, secara metode subak. Pendek kata, keinginan diperlakukan secara nyanyian aimbu”

Obaian dan Koeeno pun menuruti nasehat itu. Maka dibuatlah pesta selama tujuh hari tujuh malam. Pada hari ketujuh pesta aimbu, terlihat anak itu lambat-laun sehat kembali dan tubuhnya sedikit berisi tak lagi kurus. Setelah mereka merasa tenang dengan kesembuhan anak tersebut, mereka mempersembahkan sebuah bait yang berbunyi sebagai berikut :

Obaian yang mengangkat
Kueeno yang meletakkan di pangkuan
Dan membawanya, meletakkannya di
Dalam keranjang rata dari serat lanut
Pertama-tama tujuh ari penuh
Terdengar sesuatu yang meletus
Mereka pergi melihat, mencari
Dan terlihat seorang manusia kecil
Pertumbuhannya menyedihkan, agak kurus
Ya, keinginan yang besar untuk dirawat
Dengan air-kolong
Dengan perkataan lain, perawatan aimbu yang sepenuhnya.
Dan itu semua dilaksanakan, dan memperoleh hasilnya.
Dan namanya, Mokodoludut

Keturunan Mokodoludut ada dari dulu sampai sekarang dan akan mencapai keturunan yang selanjuntya, selalu akan memerintah. Nama keluarga yang diberikan oleh raja Coretes (Ostavol Christofel) adalah Manoppo.

Kemudian disepakati : untuk keturunan selanjutnya (anak-anak dan cucu-cucu) akan kalian sebut kinalang. Jadi ditetapkan : Jika seorang anak atau cucu dari raja sudah pasti harus dibuat panggung. Mereka yang bukan keturunan Mokodoludut disebut Paloko. Dan diputuskan keturunan Paloko akan selalu dikenal sebagai Raja dan yang dibawahnya adalah keturunan Kinalang

Demikian ketetapan, yang dijaga sampai sekarang.





Sumber : Alma E Almanar, Kumpulan Cerita Rakyat Bolaang Mongondow, 2004

Share this:

CONVERSATION

1 komentar: