image1 image2 image3

HI! I'M MARTIKA SANDRA|THE EL-GHAZY'S MOM|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I'M GLAD YOU ARE VISITING HERE

Jadilah Koki Terbaik untuk Keluargamu : Bagian 1



 

Sudah lama ingin berbagi tulisan di sini tentang MP-ASI, namun terkendala waktu dan mood hahaha. Alhamdulillah semenjak ikut berbagai kelas menulis, cukup memotivasi dan sangat memaksa diri untuk terus bisa menghasilkan tulisan dalam bentuk apapun setiap hari. Untuk minggu ini tema tulisan saya tentang Martika’s Kitchen (hehehe ini bukan tentang judul lagu dari penyanyi yang sama ya, what???iyaaaa iyaaaa namanya memang mirip tapi bukan saya yang nyanyi). Ini tidak sedang membahas judul lagu di dapur rekaman, melainkan dapurnya the el-ghazys Mom.

Sekilas nih ya tentang riwayat kehidupan the el-Ghazys Mom di dapur. Saya share sebagai pembelajaran nanti terutama bagi readers yang sudah menjadi ibu dan memiliki anak, baik anak perempuan maupun laki-laki. Bagaimana yang terjadi dengan anak di kemudian hari berkaitan dengan kemampuannya, itu sesungguhnya tidak lepas dari kontribusi orang tuanya sendiri. 

Jadi, dulu semasa gadis saya itu sama sekali tidak tahu masak selain masak air, telur, supermie dan membuat jus. Itu saja skill memasak saya. Bukannya malas atau sebagai bagian dari emansipasi wanita, bukan. Ketika masih tinggal di Manado, rumah kami sering menjadi tempat persinggahan dan kos-kosan gratis oleh kerabat orang tua yang datang dari kampung halaman. Termasuk anak-anak mereka yang sedang kuliah atau bekerja di Manado. Dan kebanyakan dari mereka adalah perempuan. Mereka punya kebiasaaan jika tinggal di rumah kerabat, mereka akan turut membantu kerabat tersebut dalam urusan pekerjaan rumah tangga. 

Salah satu pekerjaan rumah tangga yang dimaksud adalah urusan dapur. Sehingga ibu saya punya banyak “anak-anak” untuk membantu pekerjaannya di dapur. Dan saya? Beberapa kali ingin bergabung tapi ibu justru menyuruh saya bermain atau menonton saja. Ibu jarang mengajari saya bagaimana harus di dapur. Kalau pun mencoba untuk belajar, biasanya ibu akan bilang “daripada hasilnya tambah kacau mending kamu nonton saja”. Mungkin salah satu bentuk kasih sayang menurut kacamata beliau.

Entah ada hubungan atau tidak, tapi akhirnya untuk membersihkan ikan saja saya tidak tahu. Membersihkan sayur, buah-buahan, dan lain-lain, saya tidak tahu sama sekali. Saya tahunya hanya makan, makanan sudah tersedia rapi di atas meja. Padahal saya kelak menikah kan harus tahu hal-hal seperti itu. Jadi saya pun berpikir, sudahlah kalau memang tidak tahu masak toh sekarang banyak rumah makan yang jualan makanan banyak variasi pula. Tak perlu repot-repot harus masak, lagian saya bekerja di kantor. Dan keinginan untuk belajar masak pun sama sekali tidak ada. 

Hingga suatu hari beberapa hari setelah menikah, entah apa yang menggerakkan kaki saya untuk melangkah masuk ke sebuah pasar yang lumayan jauh dari rumah. Sebenarnya suami tidak pernah menuntut saya harus memasak untuk dia, sebab sebelum menikah sudah diberitahukan terlebih dahulu kenyataan hidup yang harus diterimanya dari saya, hahaha. Setelah menikah, suami yang masih bertugas di luar daerah namun masih dalam satu provinsi. Kedatangannya yang hanya seminggu sekali, membuat saya ingin selalu memberikan kejutan dan hal terbaik yang bisa membuatnya bahagia. Mungkin cinta dan tanggung jawablah yang menggerakan langkah saya sore itu menuju pasar. 

Dengan perasaan bahagia menelusuri lorong-lorong dalam pasar yang cukup ramai itu (dan saya sempat bingung dengan keanehan diri saya sore itu, what??Ikha masuk pasar?hellowwww, tumbennnnn). Hampir dua kantong plastik penuh dengan belanjaan, isinya sesuai bahan yang sebelumnya saya tanyakan ke tante termasuk resepnya. Sebelumnya sudah duluan sms ke suami “mau dimasakin apa Kak?” (cieeee…).

Waktu menunjukkan pukul lima sore, di dapur sudah ada tante yang menemani karena kebetulan sore itu Ibu belum datang dari luar kota. Sambil mencoba membersihkan bahan makanan, mengamati setiap langkah demi langkah proses pembuatan Sayur Labu Siam Santan. Tak lupa pulpen dan kertas untuk mencatat hal-hal penting selama proses memasak berlangsung.

Beberapa minggu kemudian, suami meminta saya untuk membuatkan lagi sayur tersebut. Kali ini, tanpa tante. Sepulang belanja, semua bahan kubersihkan sendiri. Sambil buku catatan terbuka manis di atas meja samping kompor. Dan akhirnya jadi juga Sayur Labu Siam Santam buatanku. Dan mata saya terbelalak ketika melihat hasil akhirnya. Warna sayur tersebut seperti warna cat dinding yang belum tercampur air, kuning pekat. Oalaaaah, rupanya kunyit yang saya campurkan melebihi batas maksimal.

(bersambung…)

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar