image1 image2 image3

HI! I'M MARTIKA SANDRA|THE EL-GHAZY'S MOM|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I'M GLAD YOU ARE VISITING HERE

Cinta Kopi Kepada Naskah dan Hilangnya si Merah




Tiga pasang baju yang baru selesai disetrika, ku letakkan di atas meja dalam kamar. Dua bocah belum juga bangun dari tidur siangnya. Tombol on menyala dari sebuah speaker portable dalam kamar, akhirnya connect juga dengan Bluetooth dalam handphoneku. Terdengar suara anak-anak bernyanyi dari speaker tersebut “bangun tidur ku terus mandi…”.

“Nak…ayo bangun…”kata ku berbisik di telinga si sulung. Sambil si bungsu digelitiki. Membangunkan mereka dengan cara ini lebih kusukai ketimbang membangunkan dengan cara feodal.
Ada sekitar lima belas menit waktu sampai mereka berdua bangun.
“Ibu mau jalan-jalan nih, tidak ada yang ikut ya? Kok masih malas-malasan. Ibu mandi dulu ya” melangkah ke luar kamar menuju kamar mandi. Spontan dua kaka beradik ini bangun dari tempat tidur sambil berlari memeluk kedua pahaku.
“Ibuuuu…kakak ikut” kata si sulung
“Adik juga ikut” si bungsu tak mau kalah.
“Ok, sekarang buka baju semua ke kamar mandi. Hayo mandi sendiri ya dan tidak boleh lama-lama” kata ku. Mereka berdua melepaskan baju dan segera bergegas ke kamar mandi. Ku amati mereka dari pintu kamar mandi. Setelah selesai, mereka berdua mengenakan sendiri pakaian masing-masing. Kami pun berangkat.

                Sesampainya di tempat janjian, sudah banyak teman-teman yang hadir dan masing-masing sedang asyik memegang selembar kertas HVS.
“Maaf terlambat teman-teman, dua bocah bersikeras ingin ikut” kataku sambil menyalamu satu per satu.
“Tidak apa-apa. Ini naskahnya Ida. Mohon kritik dan sarannya Kak” kata Diyan.

Sebelum membaca naskah tulisan tersebut, yang kulakukan pertama kali adalah mengamankan terlebih dahulu dua bocah yang ikut bersamaku. Perlahan dari tas ransel ku keluarkan beberapa mainan, buku dan krayon. Bagi seorang ibu sepertiku, benda-benda ini sangat berharga sebagai pengganti sementara kebersamaan bersama anak, saat sedang tidak berada di rumah yang tidak memungkinkan untuk membersamai anak karena aktivitas tertentu.

“Bermain bareng ya anak-anak Ibu. Tidak usah bertengkar. Buat gambar yang paling bagus, ok?” kata saya dengan sedikit negosiasi.
“Asyiiik, krayon Kakak yang mana? Punya Adik juga” jawab si Sulung. Mereka berdua pun duduk tidak jauh dari tempat saya duduk. Setelah memastikan kondisi aman, kertas selembar tadi yang ku pegang mulai ku baca perlahan.

                Bedah karya sore itu tengah membahas dua hasil karya yaitu hasil karya teman kami Ida dan karya milikku. Seluruhnya yang hadir perempuan, padahal ada beberapa anggota kami laki-laki. Kami bahkan sempat memplesetkan sedikit nama komunitas (penulis) kami yaitu Forum L***** Perempuan karena 90 % anggota kami adalah perempuan. Kalau menurut ku sih mungkin karena perempuan makhluk lingual yang membutuhkan 20.000 kata untuk dikeluarkan setiap hari, hehehe. Pesanan kopi ku sudah datang. Ah, menyenangkan sambil membaca naskah ditemani segelas kopi.

“Kopinya pahit Kak?” tanya Diyan.
“Iya, tanpa gula, Tapi enak lho ini” kataku sembari menyeruput kopi panas di genggaman.

Pesanan makanan lain pun datang, si bungsu berlarian menuju tempat ku duduk. Makanan di atas meja seperti magnet untuk dia. Setelah mencuci tangan, si bungsu tetap duduk di dekatku menikmati hidangan bakso hangat dan nasi goreng kesukaannya. Si Sulung lebih memilih di tempat lain karena ia tahu tak ada lagi tempat kosong untuk ia bergabung. Ketika si Bungsu selesai makan dan beranjak dari tempat duduk, semua berteriak kaget.

“Yahhhh, basah” kata Astri dan aku. 

Si Bungsu menumpahkan kopi panas yang baru dua kali ku seruput tadi. Naskah milik Ida pun turut terkena cairan berwarna merah kehitaman ini, padahal naskah itu diletakkan sedikit jauh dari tempat ku duduk. Dan justru masih ada buku lainnya yang berada di sekitar tempat duduk. Sepertinya kopi ini sangat menyukai naskah milik Ida. Karena bukan naskah milikku yang disambangnya (oh iya, naskahku kan dalam bentuk word, hehehe).


Kopi ini menjadikan naskah milik Ida sebagai pilihannya. Ia tahu, naskah ini suatu saat akan berubah menjadi sebuah buku bersama karya teman-teman yang lain. Mungkin ia siluman tinta yang dikutuk menjadi kopi di zaman dahulu. Bukankah kopi hampir selalu menjadi salah satu sahabat setia yang menemani naskah, buku dan buah pikiran? Saat masih berada dalam cangkir, warnanya kemerahan, sebagaimana namanya yang tercantum dalam menu “Bijimerah” Anehnya, saat menyatu, naskah milik Ida berubah menjadi warna cokelat muda, entah ke mana warna merah yang tadi lenyap tanpa bekas. 


Insya Allah pertemuan yang berkah, aamiin


*ide cerita ini muncul setelah kejadian, tak sempat mengabadikan foto naskah yang ternoda :D

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar