image1 image2 image3

HI! I'M MARTIKA SANDRA|THE EL-GHAZY'S MOM|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I'M GLAD YOU ARE VISITING HERE

MengASIhi adalah Kebahagiaan

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233
Berangkat dari ayat tersebut, sebelum menikah saya memiliki niat jika nanti menikah dan dikaruniai keturunan ingin memberi ASI Eksklusif, dan menyusui sampai 2 tahun.
Pasal 128 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pun mengatur terutama tentang 6 bulan pertama kehidupan si bayi setelah lepas dari rahim ibu, yaitu :
(1)   Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis.
(2)   Selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus.
(3)   Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum.
Beberapa kali melakukan pendataan Data Kesehatan di wilayah tempat saya bekerja, dan membuat laporan bulanan yang cakupan ASI Eksklusif nya tidak pernah melebihi 20% (dimana harusnya capaian target sebesar 90%). Hal tersebut membuat saya miris sendiri, bagaimana bisa sebuah daerah atau wilayah memiliki kualitas generasi yang baik jika kebutuhan gizi sejak dini minimal ASI Eksklusif tidak terpenuhi? Ada banyak faktor penyebab.
Faktor tersebut terjawab oleh pengalaman saya sendiri setelah menjadi seorang ibu. Alhamdulillah sejak usia kandungan 4 bulan, ASI saya mulai ada. Karena memang sudah niat mengASIhi anak pertama, apapun saya lakukan. Mulai dari rajin membersihkan puting. Dan makan makanan yang bisa memperbanyak ASI.
Sayang sekali anak pertama hanya bisa menikmati ASI sampai 3 bulan saja, faktor penyebab satu-satunya adalah karena psikis. Jauh dari suami, jauh dari ibu, jauh dari mertua. Ibu seminggu sekali datang. Dan suami seminggu dua kali pulang karena tempat kerja cukup jauh dari rumah. Saya hanya tinggal dengan bapak. Apalagi adaptasi yang luar biasa sebagai seorang ibu karena belum punya pengalaman sebelumnya, sempat merasakan juga yang namanya baby blues! Kecewa iya, tapi sudah berusaha maksimal hingga ASI saya tidak mau lagi keluar saat usia si kakak 3 bulan lebih.
Berangkat dari pengalaman itulah, saat hamil anak kedua ketika usia anak pertama baru menginjak 6 bulan. Niat untuk memberi ASI Eksklusif sampai ASI 2 tahun semakin kuat. Ditambah agak termakan dengan kalimat yang sering saya dengar langsung “anak yang dilahirkan lewat proses Caesar itu biasanya tidak sekuat anak yang dilahirkan lewat proses alamiah”.
Lho??kok bisa tahu kalau mau Caesar? Iya, karena memang sudah niat. Benar-benar masih trauma dengan proses kelahiran anak pertama selama 5 hari saya menahan sakit luar biasa. Hingga membuat saya memutuskan untuk SC APS saja anak yang kedua. Oh ya, lain waktu saya ingin menulis tentang perbedaan melahirkan normal dan caesar berdasarkan pengalaman pribadi.
Seharusnya dengan kondisi yang lama pulih karena Caesar bisa memicu stress seorang ibu. Namun tidak halnya dengan saya saat itu. Mungkin karena niat yang terlalu kuat, sampai saya bisa enjoy menghadapi setiap kondisi yang terjadi saat itu dengan memiliki 1 bayi dan 1 baduta. Selepas cuti, si adik diboyong ke kantor, lengkap sekalian sama box, kelambu, dll. Untungnya ruangan kerja cukup ideal untuk dihuni seorang bayi karena ruangan yang agak besar tapi hanya ada 3 staf di dalamnya.
Kerempongan setiap pagi harus dilalui dengan kesabaran karena saya lebih suka menyusui langsung ketimbang pumping, bondingnya lebih dapat.
Menyusui si adik, setelah itu menemani si kakak yang saat itu baru berusia 1,5 tahun. Alhamdulillah mampu melewati, mengatasi kendala  dalam kondisi demikian meski penuh dengan perjuangan.
Harus no stress (kalau bisa dikatakan sedikit memaksa  diri), harus mengatasi mood yang biasanya naik turun akibat kondisi hormon yang belum stabil pasca melahirkan.
Karena proses menyusui pada akhirnya mengeluarkan hormon oksitosin penyebab rasa gembira. Suasana hati dan pikiran sangat mempengaruhi kuantitas ASI.
Alhamdulillah si adik menyusui sampai 2,3 tahun, bisa dikatakan sudah "Profesor ASI". Makin hari makin cerewet bocah yang satu ini. Dan bocah ini cukup penurut sama Ibunya.
Tanpa perlu disebutkan lebih banyak lagi, manfaat ASI itu luar biasa. Bukankah buatan Tuhan jauh lebih baik dari buatan manusia? Semahal apapun sufor tidak akan pernah bisa menggantikan ASI. Namun, apapun itu tetaplah memberi yang terbaik untuk anak sesuai kemampuan kita, dan Allah Maha Mengetahui. Jangan terlampau kecewa karena kita belum bisa mengASIhi dengan sempurna. Dan yang terpenting adalah bisa belajar dari pengalaman.
MengASIhi juga seperti pohon dan akarnya, saling memberi KEHIDUPAN ☺. Niat yang kuat, suasana hati dan pikiran adalah dua hal penting yang mempengaruhi kelancaran ASI, dan dari makanan untuk kualitasnya.
Masih ada keinginan untuk hamil lagi saat anak-anak Insya Allah kelak memasuki usia Sekolah Dasar hehehe. Dan masih dengan niat yang kuat untuk menciptakan lagi "Profesor ASI" dalam keluarga kami. Satu kata yang bisa mewakili, breastfeeding is happyness!
So, never give up buat para pejuang ASI! Semangaaaattt buat para busui...😘😘😘
#PekanASISedunia
#WorldBreastFeedingWeek
#iip

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar