image1 image2 image3

HI! I'M MARTIKA SANDRA|THE EL-GHAZY'S MOM|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I'M GLAD YOU ARE VISITING HERE

Bedah Buku "Bila Anak Bicara"

Bedah Buku "Bila Anak Bicara"
Kamis, 1 Juni 2017
Pukul 15.00 WITA

Judul : “Bila Anak Bicara “ 26 Catatan Parenting yang Menginspirasi
Penulis : Diyan Suratman
Penerbit : Papringan Press Yogyakarta
Desain Cover : Nur Muhammad
Jumlah Halaman : 209 halaman
ISBN : -

Review Buku :
Salah satu tema buku yang menjadi prioritas saya saat ini adalah tentang parenting. Kebetulan kemarin ikut kegiatan salah satu komunitas muslimah, dan kegiatan tersebut diisi dengan tausiyah. Tausiyah dengan judul “Meneladani Rasulullah Sejak Usia Kanak-kanak”. Pematerinya adalah salah satu guru di SD-IT, di tempat saya berdomisli sekarang yaitu Kotamobagu (salah satu daerah di Sulawesi Utara, yang mayoritas penduduknya beragama Islam).
Setelah memberikan materi, beliau memberi info kepada kami tentang buku baru beliau yang baru saja diterbitkan. Saya tertarik, tapi baru beberapa hari kemudian bisa membeli buku tersebut. Saya tertarik karena judulnya “Bila Anak Bicara”. Orang lain mungkin akan mengira isi buku ini adalah tentang perkembangan bicara seorang anak. Namun, ternyata saya memiliki pikiran yang sama dengan isi buku ini sebelum membaca keseluruhannya.


Penulis buku ini adalah seorang guru SD-IT yang juga merupakan Ketua Forum Lingkar Pena Kotamobagu. SD-IT ini sekolah yang baru didirikan namun kurikulum dan sistemnya bagus menurut saya, dibanding sekolah lain yang pernah ada di tempat saya berdomisili karena disesuaikan dengan fitrah anak. Di sekolah ini pun tidak mencantumkan kolom juara (rangking kelas) di buku rapor setiap anak. Tergolong baru tapi sudah menjadi favorit para orang tua di Kotamobagu untuk menyekolahkan anak-anak mereka di situ. Penulis memiliki seorang anak perempuan berusia sekitar 1 tahun. Saya kagum, di usianya yang sekarang (26 tahun) sudah memiliki pengetahuan yang cukup banyak tentang dunia parenting dan sudah menuangkan pula dalam sebuah karya. Saya di usia segitu apa yang sudah diperbuat? punya karya buku yang sudah diterbitkan saja belum. Semua karya masih tersimpan rapi dalam secarik demi secarik kertas, buku catatan, blog dan lainnya (walaupun beberapa sudah pernah dikirim), kecuali sering membuat Buku Profil Kesehatan Kota dan Kecamatan.
Berangkat dari profesi kesehariannya sebagai seorang pendidik, Diyan kemudian membuat buku ini mengangkat persoalan yang sering orang tua dan guru temui dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa seorang anak bisa dicap bermasalah?
Kebanyakan hanya dari sisi orang tua dan guru melihat permasalahan tentang anak-anak. Di sini, Diyan mengurai dalam sudut pandang yang berbeda, yaitu dari sisi si anak itu sendiri.


Banyak kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan orang tua, guru maupun pendidik lainnya namun bisa berakibat fatal yang akan berdampak bagi masa depan seorang anak. Beberapa poin penting yang ingin penulis ingatkan kepada pembaca terutama untuk orang tua dan guru sebagai pendidik yang paling banyak berinteraksi dengan anak-anak. Garis besar buku ini memakai perspektif sudut pandang seorang anak yang terlihat dari setiap bagian buku ini yaitu : 
1. Aku dan Kebiasaanku.
2. Aku dan Mainanku.
3. Aku dan Kesalahanku.
4. Aku dan Sahabatku.
5. Aku, Ayah dan Ibu.


Komponen penting dalam dunia seorang anak seperti kebiasaannya, mainan, kesalahan yang kerapkali dibuat, sahabat, dan yang paling terdekat dan paling inti dari proses perkembangan anak adalah kedua orang tua. Ketika membaca buku ini seolah-olah seorang anak kecil sedang curhat, sedang berbicara kepada kita. Dimulai dengan bagaimana seorang anak berbicara lewat kebiasaan yang selama ini ia lakukan. Bagian pertama dengan judul "Aku dan Kebiasaanku" ini, mengurai tentang kebiasaan anak yang jika dipahami lebih dalam sesungguhnya itu adalah kebiasaan orang tua yang kebanyakan muncul secara spontan tanpa disadari. Kontak fisik negatif seperti memukul atau mencubit adalah dua hal yang kerapkali sering dilakukan orang tua jika tak mampu mengontrol emosi ketika menghadapi seorang anak. Pukulan yang biasanya dibarengi dengan kata-kata negatif (hardikan) adalah dua kebiasaan spontan yang hanya menciptakan jarak antara orang tua dengan anak, memupuk rasa benci seorang anak, dan membuat seorang anak mendefinisikan negatif dirinya sendiri.
Memberi hukuman pun sering dilakukan orang tua tanpa mengintrospkesi diri terlebih dahulu. Berkaitan dengan kebiasaan lainnya adalah tentang disiplin. Tanpa disadari seorang anaklah yang membuat orang tua menjadi disiplin jika berhasil memaknai positif arti sebuah kerempongan. Kekacauan (baik itu dari segi waktu maupun keadaan) yang diciptakan seorang anak adalah justru sebagai lahan orang tua untuk semakin memperbaiki kualitas diri termasuk kualitas mengelola waktu. Anak menjadi tidak disiplin akibat dari pembiasaan orang tua. Begitu juga halnya dengan bangun di sepertiga malam.
Kebanyakan seorang ibu tidak memperhatikan hal ini lagi ketika sedang memiliki seorang bayi. Padahal fitrahnya seorang bayi bangun pada pagi hari, kebanyakan si bayi yang bangun diberi susu lagi sambil dipeluk hingga si bayi tidur kembali. Padahal jika kita biarkan bayi bangun dan kita pun turut bangun dan mulai beraktivitas , hal tersebut akan membentuk si anak sekaligus kedua orang tuanya. Atau bisa juga saat bayi tersebut bangun, orang tua turut membawa si bayi ke mesjid untuk menunaikan salat Subuh, menurut saya ini cara yang brilian.
Para ibu hendaknya tetap berusaha menjalankan ibadah wajib maupun sunnah, meskipun harus melawan proses alamiah tubuhnya. Seperti rasa kantuk akibat menjaga anak seharian, dan sering terbangun malam beberapa kali untuk memenuhi kebutuhan bayi. Seorang anak yang tidak hobi beres-beres rumah pun terbentuk dari sikap dan kebiasaan orang tua yang terlalu sayang dan tak ingin repot hingga tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk mandiri sejak dini. Seperti sederet kalimat di akhir bagian pertama ini seorang anak berbicara “aku bisa karena dibiasakan”. Pembiasaan melahirkan karakter.


Bagian ke-2 buku ini berjudul "Aku dan Mainanku", mengurai tentang hal-hal bijak yang bisa ditanamkan dalam diri serang anak melalui kegiatan bermain. Misalnya, agar anak terpacu mengerjakan sesuatu, maka bangkitkan jiwa pemenang mereka. Kemudian pentingnya seorang pendidik bersabar dalam menemani proses perkembangan seorang anak. Pada bagian kedua buku ini dengan sub judul “Sekolah Bukan 100 % “, berisi tentang bagaimana sikap orang tua sekarang kebanyakan, terutama orang tua yang sangat sibuk bekerja yang memberikan tanggung jawab mendidik sepenuhnya ke pihak sekolah. Padahal nyatanya seorang anak paling banyak terbentuk karena pendidikan di rumah, dengan orang tuanya bukan dengan orang lain. Bahwa pendidikan di sekolah yang dibarengi dengan perhatian intens dari dalam rumah, akan menciptakan anak-anak yang luar biasa. Seorang anak yang tidak bisa mengerjakan sesuatu bukan karena ia bodoh, tapi karena ia memiliki bakat di bidang lain yang orang tua atau pendidik belum peka membacanya.


Bagian ke-3 tentang "Aku dan Kesalahanku". Hal-hal unik dari seorang anak sering dilihat sebagai kesalahan oleh orang tua maupun para guru. Anak bermasalah seharusnya tidak langsung dimarahi, tetapi dicari apa motifnya lalu diberi solusi. Motif yang dimaksud bisa karena anak menginginkan perhatian, ingin dihargai, merasa dirinya berkuasa (ego diri seorang anak), ini diakibatkan orang tua yang tidak konsisten secara lisan maupun tulisan. Anak bermasalah juga motif dibaliknya bisa jadi karena ingin balas dendam (mungkin ia pernah dipermalukan di depan umum), dan memiliki ketakutan akan kegagalan. Karakter adalah sesuatu yang paling penting dibentuk sebelum motivasi, kemampuan kognitif dan keterampilan. Pada bagian menumbuhkan sikap berani pada anak adalah dengan tidak sering mengurung anak di rumah, ataupun membatasi pergaulannya hanya karena orang tua ingin agar anak patuh. Kalau menurut saya, anak sebaiknya dibiarkan bermain di luar rumah di halaman rumah misalnya, minimal dua jam dalam sehari dan itu disesuaikan dengan usia anak.


Bagian ke-4 buku ini berjudul “Aku dan Sahabatku”, berisi tentang betapa pentingnya peran lingkungan atau hal-hal di sekitar si anak yang memilki pengaruh yang cukup besar (baik pengaruh positif maupun negatif). Pengaruh positif seperti memiliki teman yang sering menjadi alarm atau yang suka mengingatkan jika berbuat hal buruk.
Bagian terakhir buku ini berjudul “Aku, Ayah dan Ibu”, yang berisi tentang poin-poin penting yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua maupun pendidik sesuai kapasitas mereka dan peran mereka masing-masing. Misalnya membuat jurnal atau portofolio anak, memfasilitasi bakat anak sejak dini, pentingnya kebersamaan bersama anak sehingga anak tidak mencari sosok lain di luar seperti yang diharapkannya, bijak dalam memanjakan anak, mengatasi disorientasi seksual sejak dini, dan tips melatih anak salat sejak dini.
Sampul buku ini sudah cukup baik, gambar cover sudah mewakili isi buku. Ada juga testimoni di bagian depan dan belakang buku. Mengenai isi buku ini, semakin membaca setiap lembar, pembaca akan merasakan bahwa sesungguhnya bukan anak yang sedang bicara. Melainkan justru ego diri si pendidik dan kesalahan-kesalahannya yang sedang berbicara kembali ke diri para pendidik itu sendiri, sedikit merinding di sini. Hal ini penting dan berkaitan dengan yang namanya inner child. Apakah dengan poin-poin dalam buku ini bisa turut memutuskan rantai buntu sebuah inner child?


Setiap lima bagian buku ini selalu diakhiri dengan semacam surat ringkas, ungkapan terdalam seorang anak yang mencakup keseluruhan isi bab tersebut. Setiap sub bab juga selalu diawali dengan kutipan bermakna yang mewakili keseluruhan isi sub bab tersebut. Terlihat cukup besar pengaruh beberapa pakar, penulis buku parenting di Indonesia seperti Ayah Edy, Ida Widayanti, dan Ustadz Fauzil Adhim yang sering muncul di beberapa bagian buku ini, baik itu pemikiran maupun kutipan. Hanya saja pada awal saya membaca hingga memahami setiap judul bab dan sub bab , sempat mengernyitkan dahi memaknai apa inti sebenarnya dan keterkaitan antar judul bab dan judul sub bab.


Buku ini ditujukan bukan hanya untuk orang tua dan guru namun juga bagi siapapun yang turun tangan langsung mendidik seorang anak. Nah, 26 catatan parenting yang tersusun dalam setiap sub bab buku inilah yang ingin penulis sampaikan dengan pembawaan yang sederhana tapi bermakna dan argumentatif. Dengan cerita-cerita keseharian yang beliau temui langsung di sekolah maupun lingkungannya yang lain. Cerita sederhana keseharian namun tepat sasaran dan aplikatif. Buku ini adalah alarm tanpa suara dan layak untuk dimiliki bagi siapapun pendidik yang ingin menjadi mitra peradaban yang dimulai dari dalam rumah yaitu keluarga. 


Para pendidik yang senantiasa menambah ilmu dan selalu berusaha sabar walau kadang khilaf menghampiri, ingatlah : “dibalik kehebatan seorang anak ada orang tua yang membantu menghebatkannya. Di balik orang tua yang hebat ada anak yang menjadikan ia sebagai penghebatnya. Itulah kenapa orang tua dan anak sebaiknya terlibat dalam persahabatan” (Nabila Asy-syifa).


Demikian hasil review buku “Bila Anak Bicara”, terima kasih dan semoga bermanfaat.

Oleh : Martika Sandra

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar